Mataram, TARGETJURNALIS.Com – Drama politik partai Golkar NTB usai sudah. Ada yang bersedih hati adapula riang gembira. H Mohan Roliskana yang baru kemarin dilantik sebagai Wali Kota Mataram, sukses menjadikan panggung Musyawarah Daerah (Musda) Golkar NTB sebagai panggung kemenangan politik keduanya.
“Tidak ada yang kebetulan semua sudah diatur, hanya keterbatasan kita memahami rahasia Tuhan,” kata Mohan kalem, Selasa malam (3/2).
Terlepas dari dinamika dan strategi politik, kemenangan Mohan di panggung Musda menjadikannya menang beruntun. Setelah Pilwali Mataram kini Musda Golkar NTB.
Padahal, Putra almarhum HM Ruslan itu, di awal perebutan kursi Golkar NTB nyaris tak terdengar disebut berpeluang.
Mohan baru diperhitungkan justru setelah mengunci kemenangan menjadi Wali Kota Mataram dari hasil rekapitulasi KPU.
Rival Mohan berebut partai berlambang pohon beringin rata-rata politisi kawakan. Lombok Post menghimpun mereka antara lain Mantan Bupati Lombok Tengah (Loteng) HM Suhaili FT, Mantan Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh.
Berikutnya ada dua nama bupati yang mencoba masuk dari jalur ‘diskresi’. Diantaranya Bupati Lombok Timur (Lotim) HM Sukiman Azmy dan Bupati Lombok Barat Fauzan Khalid.
Di lastminute pelaksanaan Musda, Mohan pun sempat bertarung melawan Bupati Bima Indah Damayanti Putri.
Sampai akhirnya Mohan diputuskan terpilih secara aklamasi. “Tanggung jawab saya melanjutkan estafet kepemimpinan partai Golkar,” imbuhnya.
Kini semua mata dan telinga kader partai yang identik dengan warna kuning itu tertuju ke Mohan. Pertarungan hebat yang dimenangkannya, telah berakibat ekspektasi kader semakin tinggi pada kemampuannya membesarkan partai.
“Sehingga Golkar bisa menjadi partai yang besar,” ungkapnya.
Mohan menyadari, membesarkan partai Golkar seperti yang diharapkan kader Golkar di NTB saat ini tidak mudah. Figur Suhaili dan Ahyar diakuinya sangat dibutuhkan dukungannya untuk membesarkan Golkar NTB secara bersama-sama.
“Tentu kita akan rangkul dalam suasana kebersamaan, Insya Allah (kami akan) memberikan tempat (untuk Suhaili dan Ahyar) yang penting dan strategis,” janjinya.
Di sisi lain, kekecewaan tidak bisa ditutupi H Ahyar Abduh. Melalui siaran pers Ahyar mengungkapkan bagaimana tiba-tiba dukungan DPP yang dulu selalu diklaimnya, lepas dan beralih ke Mohan.
Dia menganggap DPP memilih melanggar fatsun dan etika politik yang baik. Setelah pada Februari 2020 lalu dipanggil untuk menghadap Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto, Sekjen Golkar Lodewijk F Paulus, dan Wakil Ketua Umum DPP Golkar Azis Syamsuddin.
Dalam pertemuan itu diungkapkannya dirinya menandatangani surat pernyataan kesiapan sebagai ketua Golkar NTB.
“Tiba-tiba kemudian, Minggu (28/2) saya dipanggil Demer (Plt Ketua Golkar) dan Sari (Sari Yulianti)diminta untuk mundur dari pencalonan,” ungkapnya.
Ahyar mengemukakan beberapa alasan kenapa diminta mundur. Salah satunya DPP disebut menghendaki figur yang sedang menjabat sebagai kepala daerah.
Alasan lainnya, Ia dianggap membuat kesalahan karena mencalonkan putranya H Badruttamam Ahda sebagai calon Wakil Wali Kota di Pilwali 2020 kemarin. Padahal SK Partai telah diterbitkan untuk pasangan H Mohan Roliskana-TGH Mujiburrahman.
Namun Ahyar melihat alasan ini dibuat-buat. Mengingat dalam dinamika politik Golkar hal seperti ini dianggap biasa.
“Kenapa tiba-tiba saya diminta mundur, padahal saya sudah berproses dan bekerja setahun,” sesalnya.
Sejatinya dia menyebut tidak mempersoalkan siapapun yang menang. Tetapi menyesalkan sikap DPP yang mengabaikan fatsun politik.
“Saya memegang teguh kata-kata Ketum (Airlangga),” tegasnya, terkait sikapnya.
Setalitigauang, Suhaili pun tak kalah bersedih hati. Diungkapkannya, beberapa kali berusaha menggelar Musda, saat masih menjadi pengurus Golkar tetapi selalu ditolak. Hingga kepengurusannya berakhir.
Belakangan saat peta politik berubah antara Mohan melawan Indah Damayanti Putri (IDP) di panggung Musda pun habis-habisan dihadang.
Padahal sebagian besar DPD II Golkar mendukung IDP. “Tapi kok ditolak juga, kan ada apa?” sesalnya, melalui saluran telepon.
Bahkan politisi Loteng itu berniat keluar dari Golkar. “Nanti kita lihat (perkembangan), ngapain saya di Golkar kalau begini,” sesalnya.


