Diduga usir muridnya Dari Sekolah Dan orang Tua Murid minta plt kepala sekolah di Copot.
Target – Jurnalis – Loteng,(NTB) –
orang tua wali murid SDN 1 puyung tidak menerima anaknya di usir dan ingin dikeluarkan dari sekolahnya, putra putra kami butuh pendidikan yang harus menjadi tanggung jawab wali guru di setiap sekolah terkait dengan kenakalan muridnya, dan kami sebagai orang tua wali murid telah menyerahkan sepenuhnya anak kami kepada ibu dan bapak gurunya di sekolah, “tapi
kalau sampai mengusir dan menyuruh anak muridnya di suruh berhenti sekolah atau pindah sekolah ke sekolah lain, berarti guru maupun kepala sekolahnya itu sudah tidak mampu mengajar murid-muridnya. layaknya seorang kepala sekolah itu menjadi ibu rumah tangga saja, kami sebagai orang Tua wali murid merasa keberatan dan tidak menerima tindakan dari prihal guru maupun kepala sekolah di SDN 1 Puyung yang mengusir anak didiknya dari Sekolah, karena anak kami ini masih anak sekolah Dasar (SD) , kenapa sampai-sampai Anak muridnya pulang menangis, tanyak orang tua murid. kenapa kamu menangis, ya” jawab si anak,’ karena di usir oleh guru dan kepala sekolah, kenapa sampai di usir, tanyak sang bapak; kepala sekolah mengusir dan minta suruh orang tuanya pindah sekolah ke sekolah lain,”Tuturnya Jalaludin kepada beberapa awak media Saptu 20/08/2022 di rumahnya.
“Tambah Jalaludin, orang tua wali murid, sempat mendatangi kerumah gurunya dan kebetulan guru itu guru olah raganya dan masih warga puyung juga.
Dengan kedatangan kami kegurunya, mempertanyakan dan memperjelaskan terkait pengusiran dan pemberhentian putranya dari sekolah., bahkan sampai anaknya pulang mengais.” kok bisa-bisanya guru dan kepala sekolah mengatakan mengeluarkan dan memberhentikan dengan cara mengusir anak kami dari sekolah, kenapa kami selaku orang tua murid tidak di panggil pihak sekolah, jika ada hal hal terkait putra kami dan kok bisa pihak sekolah tiba-tiba mengeluarkan surat pernyataan kepada anak anak SD yang masih duduk di bangku kelas Lima(5) tersebut.
Dan guru olah raganya juga membenarkan, pihak PLT kepala sekolah mengeluarkan 7 surat pernyataan untuk ketujuh muridnya.
Dengan hal ini, “kami dari orang tua wali murid tidak menerima sikap PLT kepala sekolah anaknya.
kami berharap pihak “Disdik, Dinas pendidikan kabupaten Lombok Tengah mencopot PLT kepala Sekolah SDN 1 puyung, karena kami tidak ingin kepala sekolah yang sikapnya kasar kepada muridnya dan harapan kami ke 7 orang tua wali murid yang di usir dan menyuruh anaknya berhenti sekolah di SDN 1 Puyung oleh guru atau seorang PLT kepala sekolahnya.
harapan kami selaku orang tua wali murid pihak Dinas pendidikan kabupaten Lombok Tengah dengan segera pindahtkan PLT kepala sekolah SDN 1 Puyung, karena tidak memberikan contoh yang baik kepada murid-muridnya., seperti sekarang ini guru kepada anak didiknya yang masih kelas 5 SD dengan cara mengusir dan menakut nakuti murid dengan kata-kata akan memberhentikan dan menyuruh pindah anak muridnya ke sekolah lain,” ungkap Jalaludin orang tua dari wali Murid.
pada saat wartawan meminta keterangan jawaban dari plt kepala sekolah SDN 1 puyung dan ia Membenarkan Hal tersebut, adapun penjelasan PLT kepala Sekolah SDN 1 Puyung, dengan Bahasa apa yang harus kami bahasakan dan kami katakan terkait pengusiran tersebut, menurut bapak-bapak selaku wartawan.
karena saya sebagai plt kepala sekolah SDN 1 Puyung dan semua guru-guru Kami disekolah ini, Dengan sebelumnya kami minta maaf yang sebesar-besarnya.,
karena dengan kedatangan bapak bapak wartawan ini, Dan sedikit-dikit kami guru dilaporkan dan guru selalu salah., dengan nada tinggi keras kepsek plt SDN 1 Puyung kepada awak media di ruangan para guru-gurunya., apakah kami salah cara memberikan soktrafi kepada murid-murid di sekolah padahal anak kami luar biasa kenakalannya, maka saya dan semua Guru sepakat untuk memberikan Soktrafi kepada murid-murid kami di sekolah, agar tidak mengulangi perbuatan dengan kenakalannya itu.
Dalam hal ini, anak murid kami yang duduk di bangku kelas 5 dan 6,sampai sampai dan saling tantang berkelahi dilapangan depan sekolah, dengan hal hal tersebut guru-gurunya melaporkan kepada saya yang selaku plt kepala sekolah dan esok harinya saya coba pantau anak murid kami yang kelas 5 dan 6 , ternyata benar’ apa yang di laporkan gurunya kepada saya.
tetapi dalam pengawasan guru-gurunya anak-anak ini masih saja memperlihatkan kenakalannya, ada tujuh(7) orang anak murid kami yang paling nakal dan yang selalu menggaggu temen-temennya.
Dari kelas 5 dan kelas 6 dan sangat luar biasa ketujuh murid tersebut dan saya selaku kepala sekolah SDN 1 puyung dan semua para guru kelas sepakat, untuk memberikan soktrafi kepada ke 7 murid kami dan memberikan surat pernyataan untuk orang tuanya ke 7 murid tersebut,” Jelasnya Kepsek SDN 1 Puyung Dengan nada tinggi dan berapi-api Emosinya.
Maaf ya pak Wartawan, kami sudah capai dengan mendidik anak anak kami dan guru itu sangat sayang pada muridnya, kenapa dalam hal ini hanyak kami guru saja yang di salahkan dan yang di laporkan, sedikit-dikit guru di laporkan dan sedikit dikit guru yang dimediakan dan dikorankan,” mari kita sama-sama mendidik anak anak kita, begitu juga orang tua dari tolong didik anaknya di rumah, karena orang tuanya tidak tau kenakalan anak-anaknya disekolah. “maka dalam hal ini’ saya dan semua guru-guru harus memberikan soktrafi kepada ke 7 muridnya tersebut dan nakalnya sangat luar biasa,” kata plt kepsek
“Kebetulan kita semua guru ada disini dan biar semuanya guru tau hal tersebut dan
sementara kita sudah sepakati memberikan soktrafi kepada murid-murid kita yang 7 orang ini, bagaimana guru-guru semua tanyak PLT kepsek SDN 1 Puyung kepada semua gurunya dan semua guru sorak-sorak sambil mengangkat tangan, bahwa guru-guru sepakat dan setuju menunjukan tangannya didepan kepseknya.
tumben tumben kepsek mengeluarkan kata nada tinggi dan emosi, karena merasa disudutkan oleh orang tua wali murid yang merasa dirinya di laporkan dan diadukan kepada beberapa awak media terkait pengusiran anak muridnya disekolah,” tutur kepsek SDN 1 puyung kepada wartawan Saptu 20/08/2022.
.
Sambungnya, “kepsek, SDN 1 Puyung.
dijelaskannya,
Damai adalah kesejahteraan dari segi itu kami berharap semua dari orang tua wali murid agar tau
kenakalan anak anak kami di sekolah ini sangat luar biasa pak wartawan, masak kita saja guru yang di salahkan oleh orang tua dari wali murid,” terangnya
kepsek SDN 1 Puyung,’ kami semua Guru menampung apapun itu keluhan mereka kita ini sudah dewasa Mari kita didiskusikan semua masalah karena apapun masalah itu pasti ada solusinya itu yang pertama.
Dan yang kedua, silahkan kita sayangi anak-anak kita di rumah, tetapi bila di sekolah ini menjadi tanggung jawab kami selaku gurunya., kami adalah guru anak-anaknya dan jangan hanyak kami guru saja yang disalahkan dan harapan kami yang dari guru ini silahkan juga orang tua anak-anak bisa di didik supaya tidak hanyak mendapatkan pendidikan di sekolah saja, agar kami tidak selalu disalahkan setiap ada kata seperti ini karena kami hanya mengajar dari jam 6.30 sampai jam 12.30 Pak kami sudah lepas 24jam bayangkan kami hanya 6 sampai 7 jam bersama anak-anak selebihnya Itu bersama orang tua dan tanggung jawab yang lebih besar itu adalah orang tua.
bukan kami sebagai guru saja sasaran dan yang dipersalah oleh kenakalan anak-anak di sekolah, kami berharap pada orang tua wali murid tidak sepenuhnya guru guru yang disalahkan. “tolong hargai kami sebagai Guru sudah itu saja terima kasih,” Tutup kepsek SDN 1 puyung.
setelah selesai kompirmasi awak media kepada kepala sekolah dan guru-guru SDN 1 Puyung, adapun keterangan dari beberapa wali murid yang sedang menunggu kepulangan putra putrinya dari sekolah,
Tambahanya wali murid di gerbang pintu sekolah sangat membenarkan kejadian kejadian di sekolah anaknya, menurutnya karena kurang pengawasan dari guru-gurunya,” ungkap wali murid yang tidak ingin namanya disebut dan ingin dirahasiakan.
“Didepan gerbang Sekolah SDN 1 puyung beberapa orang tua wali murid yang sedang menjemput putra putrinya ia membenarkan, apa yang mereka tau, karena wali murid yang sedang menjemput putra putrinya saat pulang sekolah bahwa guru guru yang di SDN 1 Puyung kebanyakan ngerumpi-ngerumpi ketimbang mengawasi muridnya yang berkeliaran sampai hampir berkelahi di lapangan tersebut,” Ungkapnya para wali Murid di luar gerbang pada hari Saptu itu, kami tau sehari harinya karena kami setiap hari menjemput anak anak kami dan hanyak di hari Minggu saja tidak menjemput putra putrinya,.(red)
JB/TJ


