Narasi dan Komentar dari Pakar Lingkungan (Nujumudin) soal Kawanan anjing dan monyet berkeliaran di Sirkuit Mandalika Kuta

Target Jurnalis
Lombok Tengah, NTB – Berita yang beredar di medsos bahwa, Kawanan anjing dan monyet yang berkeliaran di Sirkuit Mandalika Kuta terjadi bukan karena kurangnya hutan tempat bersembunyi seperti yang dikatakan Ivan Juandra selaku Kepala Bagian Perencanaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) NTB, hal itu dibantah oleh Pakar Lingkungan Hidup dan Lingkungan Pesisir Dr. (C). Nujumuddin, SP., M.Si.
Nujum mengatakan, “hutan sudah tidak ada lagi dari puluhan tahun lalu, tentang maraknya hewan hutan masuk ke pemukiman karena mereka mengalami krisis makanan dan minuman
“Di satu sisi populasi mereka bertambah, disisi lain karena kekeringan di musim kemarau. Bisa digambarkan untuk jenis pohon sebagai sumber pakan hewan hutan dapat dikatakan sudah tidak ada di sekitar Kuta. Seperti tanaman yang tergolong Leguminosae dan umbi-umbian: Zingiber officinale, Pachyrhizus erosus, Alpinia galanga, Manihot esculenta dan Ipomoea batatas,
Berbagai jenis kawanan binatang buas selain kawanan monyet dan anjing yang ada dan mungkin perlu diwaspadai di destinasi wisata Kuta Mandalika Lombok Tengah yaitu kawanan babi hutan, kawanan buaya, kawanan ular, kawanan tikus, kawanan belalang, kawanan ulat bulu dan kawanan ikan hiu. Kawanan ini nanti mungkin bisa terjadi terutama kawanan ular berkeliaran di daerah pemukiman,
“Belum lagi nanti akan terjadi penampakan kawanan babi hutan, tikus dan ular berkeliaran di daerah pemukiman. Masyarakat harus waspada kemungkinan-kemungkinan yang terjadi, “tutur Nujum.
Lebih jauh menjelaskan, Nujum juga mengatakan, “tidak itu saja, seringnya terjadi wisatawan terseret ombak ketika mandi di pantai bukan karena ombaknya yang kurang bersahabat, akan tetapi kawanan ikan hiu putih yang mencari mangsa ke pesisir, ikan hiu putih bisa menggiring mangsanya dan lebih ganas dari ikan hiu hitam, Oleh karena itu wisatawan sebaiknya jangan mandi sendirian atau terpisah dari kelompoknya, “imbuhnya.
“Ada lagi kawanan buaya yang menyerang ke sekitar pemukiman. Pada kondisi yang nyaman baginya, buaya menyisir di sekitar pantai dan masuk ke muara sungai untuk mencari mangsanya seperti hewan hutan yang turun minum atau manusia yang berada di sungai
“Kita mendengar berita gajah dan macan di Sumatera masuk ke pemukiman karena tidak ada makanan di dalam hutan terlebih terjadinya pembakaran lahan yang mengeluarkan asap demikian kata Nujum, “pungkasnya.
